MENARI GANDRUNG SAMPAI TIDAK LAKU

TOKOH yang satu ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan
seni masyarakat osing Desa Kemiren. Dia adalah Temu Mudaiyah, penari gandrung
senior di Banyuwangi. Temu demikian panggilan akrabnya, sangat dikenal di
kalangan para penggemar gandrung. Konon, dia adalah satu-satunya pemilik suara
paling bagus dalam sejarah seni gandrung di Banyuwangi.


Temu tidak pernah sepi undangan untuk manggung. Begitu seringnya membuat
rekaman, perempuan yang lahir 52 tahun silam ini sampai lupa berapa album yang
pernah dibuat.
Prestasi yang diukir Temu terbilang paling bagus di antara gandrung lainnya.
Banyak pemerhati seni dari luar negeri secara khusus datang ke Indonesia hanya
untuk bertemu dan melihat keahlian Temu bernyanyi. Sebut saja, Philip Murdog,
pecinta seni asal Amerika Serikat. Ia sempat membuat album khusus tentang Temu
untuk bahan penelitiannya.


Meski menjadi gandrung beken, Temu tidak pernah bercita-cita menjadi seorang
pernari gandrung, karena kedua orangtuanya, Supiah dan Mistari, tidak memiliki
darah penari gandrung. Hanya kakek Temu yang memiliki sedikit darah seni
sebagai pemain biola gamelan gandrung.


Perkenalan Temu dengan dunia gandrung berawal tahun 1969. Saat itu ia berumur
15 tahun. Ketika Temu kecil selalu sakit-sakitan, oleh orangtuanya, diajak
pergi ke dukun yang kebetulan memiliki kelompok gandrung. “Aneh, ketika dibawa
ke situ saya langsung sembuh dan mau makan,” kenangnya.


Sejak itulah, Temu kemudian dipungut dukun tersebut. Orangtua angkat Temu suatu
ketika mendapatkan pesanan pentas gandrung. Namun, tidak satu pun gandrung siap
untuk melakukan pentas. Akhirnya, Temu ditawari untuk menjadi gandrung.
Anehnya, hanya berlatih tiga hari, Temu yang masih muda langsung bisa menguasai
tarian dan nyanyian gandrung dengan baik. “Pertama kali pentas saya sempat
grogi. Apalagi menghadapi banyak orang,” tuturnya.


Dari sinilah nama Temu makin dikenal. Hampir tiap ada orang punya hajatan,
gandrung Temu selau hadir untuk menari. Hingga akhirnya, dia memiliki sebuah
kelompok gandrung sendiri yang diberi nama Sopo Ngiro tahun 1980. “Sopo ngiro
(siapa yang menyangka - Red.), saya bisa menjadi gandrung dan terus laku meski
sudah berumur tua,” selorohnya.


Kesehariannya, di sela-sela waktunya yang kosong, Temu selalu menyempatkan
mendidik generasi muda yang berminat menjadi gandrung. Biasanya mendidik
gandrung dilakukan di rumah atau di padepokannya. Murid-murid hasil
gemblengannya rata-rata sukses menjadi gandrung. “Tapi sayang, mereka jarang
yang tahan lama. Biasanya hanya bertahan dua tahun. Setelah itu mereka
menikah,” keluh Temu.


Terkadang dia mengeluh banyak gandrung muda yang tidak mau mengikuti aturan.
Banyak gandrung muda hanya mengejar duit tanpa memperhatikan pakem menari.
“Penari gandrung sekarang banyak yang tidak bisa menyanyi. Mereka kebanyakan
menyuruh orang lain untuk menyanyi. Padahal, seorang gandrung mestinya bisa
menyanyi dan menari,” kritiknya. Dia juga menyindir banyak gandrung muda yang
tidak bisa menyanyikan lagu-lagu tradisional osing.


Temu bertekad dalam usia senjanya akan tetap berkecimpung di dunia gandrung.
Baginya, gandrung adalah napas kehidupannya yang tidak bisa ditinggalkan.
Ditambah lagi hingga kini gandrung masih tetap digemari masyarakat. Buktinya,
banyak warga yang mempunyai hajatan selalu mengundang gandrung. “Saya akan
tetap menari gandrung sampai tidak laku lagi,” tegasnya.
Di Desa Kemiren ada tiga gandrung senior yang masih eksis hingga sekarang. Mereka
itu, Temu, Mudyah dan Suidah. - udi

Leave a Reply