Archive for October, 2007

MENARI GANDRUNG SAMPAI TIDAK LAKU

Friday, October 5th, 2007

TOKOH yang satu ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan
seni masyarakat osing Desa Kemiren. Dia adalah Temu Mudaiyah, penari gandrung
senior di Banyuwangi. Temu demikian panggilan akrabnya, sangat dikenal di
kalangan para penggemar gandrung. Konon, dia adalah satu-satunya pemilik suara
paling bagus dalam sejarah seni gandrung di Banyuwangi.


Temu tidak pernah sepi undangan untuk manggung. Begitu seringnya membuat
rekaman, perempuan yang lahir 52 tahun silam ini sampai lupa berapa album yang
pernah dibuat.
Prestasi yang diukir Temu terbilang paling bagus di antara gandrung lainnya.
Banyak pemerhati seni dari luar negeri secara khusus datang ke Indonesia hanya
untuk bertemu dan melihat keahlian Temu bernyanyi. Sebut saja, Philip Murdog,
pecinta seni asal Amerika Serikat. Ia sempat membuat album khusus tentang Temu
untuk bahan penelitiannya.


Meski menjadi gandrung beken, Temu tidak pernah bercita-cita menjadi seorang
pernari gandrung, karena kedua orangtuanya, Supiah dan Mistari, tidak memiliki
darah penari gandrung. Hanya kakek Temu yang memiliki sedikit darah seni
sebagai pemain biola gamelan gandrung.


Perkenalan Temu dengan dunia gandrung berawal tahun 1969. Saat itu ia berumur
15 tahun. Ketika Temu kecil selalu sakit-sakitan, oleh orangtuanya, diajak
pergi ke dukun yang kebetulan memiliki kelompok gandrung. “Aneh, ketika dibawa
ke situ saya langsung sembuh dan mau makan,” kenangnya.


Sejak itulah, Temu kemudian dipungut dukun tersebut. Orangtua angkat Temu suatu
ketika mendapatkan pesanan pentas gandrung. Namun, tidak satu pun gandrung siap
untuk melakukan pentas. Akhirnya, Temu ditawari untuk menjadi gandrung.
Anehnya, hanya berlatih tiga hari, Temu yang masih muda langsung bisa menguasai
tarian dan nyanyian gandrung dengan baik. “Pertama kali pentas saya sempat
grogi. Apalagi menghadapi banyak orang,” tuturnya.


Dari sinilah nama Temu makin dikenal. Hampir tiap ada orang punya hajatan,
gandrung Temu selau hadir untuk menari. Hingga akhirnya, dia memiliki sebuah
kelompok gandrung sendiri yang diberi nama Sopo Ngiro tahun 1980. “Sopo ngiro
(siapa yang menyangka - Red.), saya bisa menjadi gandrung dan terus laku meski
sudah berumur tua,” selorohnya.


Kesehariannya, di sela-sela waktunya yang kosong, Temu selalu menyempatkan
mendidik generasi muda yang berminat menjadi gandrung. Biasanya mendidik
gandrung dilakukan di rumah atau di padepokannya. Murid-murid hasil
gemblengannya rata-rata sukses menjadi gandrung. “Tapi sayang, mereka jarang
yang tahan lama. Biasanya hanya bertahan dua tahun. Setelah itu mereka
menikah,” keluh Temu.


Terkadang dia mengeluh banyak gandrung muda yang tidak mau mengikuti aturan.
Banyak gandrung muda hanya mengejar duit tanpa memperhatikan pakem menari.
“Penari gandrung sekarang banyak yang tidak bisa menyanyi. Mereka kebanyakan
menyuruh orang lain untuk menyanyi. Padahal, seorang gandrung mestinya bisa
menyanyi dan menari,” kritiknya. Dia juga menyindir banyak gandrung muda yang
tidak bisa menyanyikan lagu-lagu tradisional osing.


Temu bertekad dalam usia senjanya akan tetap berkecimpung di dunia gandrung.
Baginya, gandrung adalah napas kehidupannya yang tidak bisa ditinggalkan.
Ditambah lagi hingga kini gandrung masih tetap digemari masyarakat. Buktinya,
banyak warga yang mempunyai hajatan selalu mengundang gandrung. “Saya akan
tetap menari gandrung sampai tidak laku lagi,” tegasnya.
Di Desa Kemiren ada tiga gandrung senior yang masih eksis hingga sekarang. Mereka
itu, Temu, Mudyah dan Suidah. - udi

BANYUWANGI SEJUTA RUJAK

Friday, October 5th, 2007

BANYUWANGI, khususnya Desa Kemiren, juga memiliki berbagai
jenis makanan khas. Salah satu makanan khasnya adalah rujak. Rujak yang ada
sangat beragam. Konon, saking banyaknya, Banyuwangi sempat dijuluki sebagai
‘kota sejuta rujak’.
Jenis rujak di Banyuwangi sebenarnya hanya dua macam, rujak buah dan rujak
lontong sayur. Dua jenis rujak ini memiliki keunikan yang beragam, tergantung
kemasan penyajiannya. Nama rujak buah juga unik. Di antaranya, rujak cemplung,
rujak ini terbuat dari berbagai jenis buah seperti mangga, mentimun, nenas,
bengkoang, dan jeins buah lainnya. Dinamakan ‘cemplung’ karena buah-buahan yang
telah dicacah dimasukkan dalam cairan air cuka yang sangat pedas dan masam.
Di-cemplung-kan berarti dimasukkan.

Ada

rujak iris.
Rujak ini juga terbuat dari buah-buahan. Cara pembuatannya, buah diiris rapi
kemudian dicampur bumbu yang terbuat dari air gula merah dan asam.

Ada

juga jenis rujak
kecut. Rujak ini bahan dasarnya buah-buahan. Bedanya, buah yang sudah diiris
dicampur saus kacang ditambah sedikit petis udang.
Yang paling populer dan menjadi santapan idola kini adalah rujak soto. Rujak
ini baru muncul sekitar tahun 1975. Awalnya, rujak ini modifikasi rujak lontong
sayur.
Rujak soto pertama kali dibuat Usni Solihin, ibu rumah tangga yang gemar
memasak. Dari kegemaran memasak inilah, Usni yang sempat membuka warung di
salah satu kompleks SMA mencoba mencampurkan rujak dan soto. Hasilnya,
mengejutkan. Rujak ini memiliki rasa khas sayuran dicampur soto yang beraroma
daging hangat.
Awalnya, penemuan itu tidak mendapat respons masyarakat. Lambat laun Usni
menyempurnakan penemuannya itu. Akhirnya, penemuan yang spektakuler itu mampu
menjadikan namanya melejit. Rujak soto makin dikenal dan digemari, bahkan bukan
hanya di kalangan warga osing.


Perbedaan antara rujak biasa dan rujak soto terletak pada penggunaan petis
udang. “Rujak biasa petisnya harus banyak. Tapi rujak soto tidak usah pakai
petis. Ini rahasianya,” ujar Usni.
Sejak ditemukannya rujak soto, menambah daftar makanan khas di Banyuwangi.
Karena itu, tidak heran jika warung milik Usni yang terletak di pojok jalan
Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, selalu ramai pengunjung. Tiap hari dia
harus menyediakan 4 kg kacang tanah untuk bahan saus rujak. Di warungnya Usni
membuat rujak tetap menggunakan cara tradisional. Ketika dia membuat rujak
semua bahan tetap diuleg dengan tagannya sendiri. “Kalau pakai blender saya tidak
bisa menjamin rasa rujaknya,” tururnya.


Kini warung rujak soto milik Usni bukanlah satu-satunya di Banyuwangi. Hampir
di tiap sudut

kota

bisa ditemukan warung yang menyediakan menu rujak soto.
Rujak soto pernah diikutkan Festival Makanan Nusantara di Jakarta, Malang,
Surabaya, dan selalu menempati peringkat tertinggi. Kini rujak soto seolah
menjelma menjadi makanan populer dengan harga yang sangat terjangkau.
Makanan khas lainnya adalah beraneka jenis camilan, mulai dari aneka krupuk,
sale pisang, bagiak hingga rengginang. Menariknya, camilan ini dikolaborasi
dengan berbagai jenis rasa, mulai dari rasa cumi, tahu, kerang dan banyak lagi.
Tiap toko oleh-oleh umumnya memberikan layanan jasa antar hingga ke luar pulau.

Yang perlu dilirik lagi adalah banyaknya jenis kerajinan ciri khas warga osing.
Kerajinan yang paling banyak adalah terbuat dari anyaman bambu. Berbagai jenis
perabot rumah tangga, seperti tas, baki, tempat kue dan lainnya, semuanya
dibentuk rapi dari anyaman bambu. Barang kerajinan ini juga mudah didapatkan
dan harganya relatif murah. - udi

MELIHAT WAJAH ASLI BANYUWANGI DATANGLAH KE DESA WISATA OSING KEMIREN

Friday, October 5th, 2007

Keunikan
Desa Kemiren terletak pada banyaknya budaya dan tradisi upacara adat yang masih
terasa kental, terutama budaya osing, budaya asli Banyuwangi. Warganya tetap
kental menggunakan dialek bahasa osing dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga
kuat menjaga tradisi budaya warisan leluhur. Mereka yang mayoritas petani,
masih menggunakan cara alami dalam mengolah sawah. Membajak menggunakan kerbau
dan memanen padi dengan cara tradisional. Pada pagi hari kita bisa melihat para
wanita petani berbondong-bondong berangkat ke sawah dengan memanggul bakul
berisi peralatan memanen padi. Selama perjalanan mereka asyik berbicara
menggunakan dialek osing. Desa Kemiren terletak di barat kota Banyuwangi

Dari
pelabuhan penyeberangan Ketapang hanya perlu waktu sekitar 30 menit untuk
mencapai tempat ini dengan berkendaraan sepeda motor. Sarana transportasi siap
tersedia, sarana jalan raya memadai. Menurut sejarahnya, desa ini lahir pada
zaman penjajahan Belanda, tahun 1830-an. Awalnya, desa ini hanyalah hamparan
sawah hijau dan hutan milik para penduduk Desa Cungking yang konon menjadi
cikal-bakal masyarakat osing di Banyuwangi. Hingga kini Desa Cungking juga
masih tetap ada. Letaknya sekitar 20 km arah timur Desa Kemiren. Hanya saja,
saat ini kondisi Desa Cungking sudah menjadi desa kota. Saat itu, masyarakat
Cungking memilih bersembunyi di sawah untuk menghindari tentara Belanda.

Para
warga enggan kembali ke desa asalnya di Cungking. Maka dibabatlah hutan untuk
dijadikan perkampungan. Hutan ini banyak ditumbuhi pohon kemiri dan durian.
‘’Karena itu leluhur kami menamakannya Kemiren, dari perpaduan kata ‘kemiri’
dan ‘duren’,‘’ tutur D. Timbul, tokoh masyarakat Desa Kemiren. Pertama kali
desa ini dipimpin kepala desa bernama Walik. Sayangnya, tidak ada sumber jelas
yang menceritakan siapa Walik. Konon dia termasuk salah satu keturunan
bangsawan.

Saat
ini luas desa ini 105.771 m2 dengan penduduk 2.622 jiwa. Sejak dulu hingga
sekarang mayoritas penduduknya tetap bertahan sebagai petani. Alasan utamanya,
sumber air melimpah di desa tersebut. Padepokan Gandrung Desa ini memiliki
banyak kesenian unik khas Banyuwangi. Inilah salah satu yang melatarbelakangi
desa ini disebut sebagai ‘desa wisata osing’. Berbagai kesenian yang bisa
dijumpai di antaranya seni barong, gandrung, kuntulan, angklung, jaran kincak
(kuda menari) dan mocopatan (membaca lontar kuno). Banyaknya kesenian inilah
yang menjadikan Desa Kemiren incaran para akademisi untuk melakukan penelitian,
di bidang keagamaan maupun kesenian. Menurut catatan, banyak warga dari dalam
dan luar negeri menyandang gelar doktor dan profesor setelah melakukan
penelitian di desa ini. Kesenian tradisional yang paling popular, seni gandrung.

Hampir
semua penari gandrung terkenal berasal dari Kemiren. “Di sini wanita mulai dari
anak TK hingga dewasa semua belajar dan bisa menari gandrung,” ujar D. Timbul.
Di desa ini ada padepokan yang khusus mengajarkan gandrung dan tarian osing
lainnya. Hampir tiap liburan tempat ini selalu dipenuhi warga masyarakat yang
ingin mendalami gandrung. Desa Kemiren juga memiliki banyak kegiatan upacara
tradisional yang unik. Di antaranya, ider bumi yang digelar tiap hari raya Idul
Fitri. Warga berkeliling kampung sambil membawa 37 tumpeng berisi makanan khas
osing yakni pecel ayam. Bahannya terbuat dari ayam kampung yang dipanggang dan
dicampur urap kelapa muda. Upacara lainnya, selamatan di tiap titik mata air.
Tujuannya, meminta kesuburan tanaman dan bebas dari segala gangguan penyakit.
Hampir tiap upacara selalu disajikan makanan khas pecel ayam. Masyarakat
Kemiren juga sangat mengagungkan leluhur.

Tiap
warga yang akan membuat hajatan selalu melakukan doa dengan membawa pecel ayam
di makam Mbah Buyut Cili yang dipercaya sebagai salah seorang leluhurnya.
Keunikan lain yang dijumpai di desa ini adalah rumah adat asli yang disebut
gebyok. Hampir semua rumah di sini terutama yang jauh dari jalan raya masih
terlihat asli seperti zaman dulu. Rumah ini terbuat dari kayu hutan yang masih
asli, memiliki atap khas yang menjulang tinggi. Konon, bentuk rumah gebyok
memiliki filosofi yang sangat tinggi. Rumah adat osing terdiri atas tiga jenis,
yakni, tikel balung, baresan, dan crocogan. “Ini mengisahkan kehidupan sebuah
keluarga. Artinya untuk menjadi keluarga yang tenteram perlu perjuangan dan
perjalanan yang panjang,” ujar D. Timbul. Tahun 1990 tepatnya saat kepemimpinan
Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman, Desa Kemiren ditetapkan menjadi kawasan
wisata desa adat osing. Penetapan ini ditandai berdirinya pembangunan anjungan
desa wisata osing yang ditempatkan di tengah-tengah Desa Kemiren. Luas bangunan
anjungan 800 m2. Di dalamnya berisi gedung budaya dan berbagai anjungan rumah
adat osing.

Sayangnya,
proyek yang menelan biaya cukup besar tersebut harus mangkrak. Bangunannya
banyak yang rusak dan jarang digunakan untuk kegiatan pentas seni. Akhirnya,
tahun 1994 pengelolaannya diserahkan kepada swasta, dan tahun 2003 tempat ini
murni dikomersialkan. Saat ini di anjungan desa wisata osing hanya terdapat kolam
air alami dan beberapa rumah adat yang disewakan sebagai vila. Sewa vila
satu malam Rp 80.000. Pengunjung rata-rata tiap hari tidak kurang dari 100
orang. Sementara yang menginap relatif kecil. Umumnya tempat ini ramai
kunjungan saat-saat hari libur sekolah. - udi